Mensikapi perbedaan

Dalam berbagai hal, yang namanya perbedaan adakalanya membikin masalah semakin suram. Semakin berbeda orang jadi panas kepalanya. Hal yang ekstrim adalah adanya pola pikir yang tidak menerima perbedaan itu. Terutama perbedaan pemikiran, telah menjadi bagian dari kehidupan ummat manusia. Diakui atau tidak selama berabad-abad silam manusia hidup dalam perbedaan, baik fisik maupun pemikiran.

Dengan adanya perbedaan kulit, manusia saling berperang. Dengan perbedaan pemikiran, ada yang menindas manusia lain. Hal ini hendaknya menjadi pelajaran bagi kita semua. Hendaknya perbedaan yang ada itu benar-benar menjadi rahmat. Perbedaan benar-benar menjadi sebuah kekuatan potensial yang mampu membawa manusia ke gerbang kemakmuran.


Apakah manusia tidak memperhatikan, bahwa yang namanya hutan itu teridri dari berbagai makhluk yang tidak sama. Terjadi perbedaan di sana, apakah manusia tidak memperhatikan! Hutan menjadi sangat asri dan menjadi makmur sebelum munculnya manusia. Laut menjadi sumber kekayaan sebelum hadirnya campur tangan manusia. Apakah manusi benjadi perusak atau pemelihara.

Belakangan ini kita dihadapkan dengan perbedaan pemikiran tentang sesuatu hal. Ada yang pro, ada juga yang kontra. Tentang poligami misalnya, yang pro berpendapat bahwa poligami ada dalam Al Qur’an, lalu berpendapat bahwa itu perintah Tuhan. Sedangkan yang kontra berpendapat bahwa poligami yang memang ada dalam AL Qur’an cenderung disalahgunakan. Dengan alasan diperintahkan kemudian dapat medalilkan bahwa itu adalah perintah.

Dengan adanya perbedaan ini hendaknya tidak menjadikan umat terpecah belah. Hendaknya kita masing-masing dapat menarik hikmah dibalik itu semua. Ibaratnya, kita dihadapkan dengan sejumlah makanan dihadapan kita. Ada beberapa pilihan makanan bagi kita, terserah kita mau milih yang mana, semua tersedia dan yang halal juga jelas. Begitu juga dengan adanya wacana poligami yang telah menyeruak ke permukaan semoga telah menurunkan rahmat-Nya, insyaallah.

Ingatlah, sebaik-baik manusia adalah manusia yang bertaqwa kepada Allah swt.

Posted in Sosial. 2 Comments »

2 Responses to “Mensikapi perbedaan”

  1. andi Says:

    He he he satu lagi artikel tentang poligami yang lagi ngetrend😀
    Hanya jin dan manusia yang diberikan kelebihan berupa akal yang fungsinya untuk berpikir. Syaitan meminta kepada Allah SWT untuk menggoda manusia .. mengapa demikian, karena hanya jin dan manusia yang bisa digoda oleh syaitan, makhluk lain tidak. Oleh karena itu kita tidak bisa menyamakan antara hutan dengan kumpulan manusia.
    Pernahkah kita menerima perintah trus kita kerjakan tanpa tahu apa maksud dan tujuannya ?😀 ngeblog dulu ah … :-p

    dimendi5 : nah, hutan aja yang tidak punya akal bisa demikian asri. Tetapi manusia yang dikaruniai akal, malah akal-akalan merusaknya. Apa nggak sesat kang !

  2. Mbah Dipo Says:

    perbedaan seyogyanya tidak diikuti perpecahan

    dimensi5 : itu yang harus dipahami bersama !


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: