Belajar Menghormati !

Akhir-akhir ini bila kita perhatikan di jalan raya, terutama para pengendara kendaraan bermotor, tidak sedikit diantara mereka yang seenaknya sendiri. Sebagai salah satu contoh, bunyi suara mesin motor mereka seperti sengaja di gedhein dengan mengganti knalpotnya. Apakah hal ini tidak mengganggu orang disekitarnya, apalagi volume suara mesin kendaraan itu bisa membuat dada bergetar. Alangkah besarnya bunyi suara itu.

Kalo diperhatikan baik-baik, apakah si pengendara tidak merasa risi dengan suara kendaraannya ataukah dengan begitu dia merasa gaya, merasa ampuh, merasa jagoan ketika menggendarai kendaraan yang semacam itu? Ataukah dia sudah tidak punya rasa malu lagi, ya malu karena telah membuat kebisingan dan keberisikan yang ditimbulkan oleh suara kendaraannya itu. Ah sungguh ngerinya bila demikian. Kalo hal demikian ini cuma dilakukan oleh satu dua orang saja mungkin kurang begitu diperhatikan, akan tetapi hal ini dilakukan hampir setiap pengendara di jalanan Jakarta. Coba bayangkan, alangkah ramenya suasana itu. Apalagi ketika lagi berhenti ditengah kemacetan, atau ketika pas di lampu merah, sungguh terasa kehingar bingaran itu.


Yang menjadi aneh dalam hal ini adalah, orang yang ada di sekitarnya, kok cuek saja. Apakah tidak terganggu dengan hal semacam ini, apakah tidak terganggu dengan kebisingan yang dia dengar. Ataukah dia juga sudah cuek dengan suasana sekitarnya. Sudah tidak mau peduli lagi dengan lingkungan tempat dia beraktivitas? Masih menjadi pertanyaan yang mengambang.

Hal lain yang jadi keanehan dalam suasana jalan raya di ibu kota, adalah ego pengendara yang begitu tinggi. Ketidak mauan mengalah guna memberikan jalan ke orang lain inilah yang agaknya telah membudaya bagi kalangan pemakai jalan di Jakarta. Entah karena tidak ingin terlambat atau karena suka dengan hal itu, itu semua dapat kita lihat dalam suasana di jalanan.

Ditengah suasana semacam itu, kalo kita perhatikan lebih detail lagi kita juga melihat sisi lain kehidupan anak jalanan. Kehidupan mereka yang tiap hari hanya mengandalkan jerih payah mereka mengharap belas kasihan para pengendara kendaraan untuk dapat melanjutkan sisa hidup mereka.

Ada apa ini, satu sisi ada pengendara kendaraan yang seenaknya dengan kendaraan mereka berjalan di jalanan. Di sisi lain ada anak jalanan yang dalam kesehariannya mereka hidup di jalanan. Kalo kita perhatikan, seberapa kuat anak-anak ini dapat bertahan dengan asap knalpot kendaraan itu, seberapa kuat anak-anak ini dapat menahan suara gaduh kendaraan bermotor itu. Dan siapa yang peduli dengan ini semua. Adakah dari kita yang terketuk untuk mengambil inisiatif melakukan hal apa dan sebaiknya bagaimana.

Sungguh kejam manusia yang memperlakukan manusia lain tidak sebagaimana mestinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: