Sabar

Tidak sedikit dari kita yang telah akrab dengan kata sabar. Tidak sedikit dari kita yang telah menggeluti kata sabar ini. Bahkan mungkin kita tidak sadar bahwa dalam keseharian kata kita dikelilingi oleh kata sabar. Namun apakah kata sabar ini bener-bener meresap di dalam hati sanubari kita?

Dalam mengartikan sabar terkadang kita membatasi makna sabar itu sendiri. Pernah terlontar ungkapan, sabar itu ada batasnya. Apakah demikian, bahwa sabar itu amat terbatas. Kenapa dalam Al Qur’an kita diperintahkan untuk sabar dan tetap sholat untuk menggapai pertolongan-Nya? Kalau Al Qur’an saja sudah berbicara tentang sabar, berarti sabar itu mempunyai makna yang lebih dalam dong.


Dalam setiap aktivitas atau dalam keseharian kita terkadang dihadapkan pada suatu persoalan yang memancing emosi kita. Terlebih jika persoalan itu berakibat negatif atau membawa dampak yang buruk bagi kita. Tentunya kita akan merespon sebagai tanggapan atas dampak yang kita terima. Pada puncaknya kita mungkin akan kehilangan kontrol diri, yang pada gilirannya nanti kita jadi marah atau mungkin malah jadi stress. Apakah pada puncak emosi, kita diperkenankan untuk melampiaskan kemarahan kita dengan memasang muka merah dan menjadikan berbagai alasan untuk memarahi orang lain.

Kembali ke Al Qur’an, bahwa kita diperintahkan untuk sabar dan sholat untuk menggapai pertolongan-Nya. Di sini kita diberi jalan, yaitu tetep sabar, dan kalau misalnya emosi kita makin memuncak kita tetap diperintahkan untuk sabar dan ditambah sholat. Ya, ketika emosi kita semakin memuncak agaknya kita harus cepat-cepat ambil air wudhu, lalu kita lakukan sholat. Kalau memang sudah waktunya sholat 5 waktu, kita lakukan itu. Tapi kalau memang belum waktunya, kita sholat sunnah 2 rekaat sehabis wudhu. InsyaAllah, emosi yang memuncak itu akan mereda dengan sendirinya.

Dalam riwayat lain juga diceritakan, bahwa apabila kita sedang dalam posisi marah, bila dalam keadaan berdiri kita diminta duduk, kalau dalam posisi duduk kita diminta berbaring. Terlepas dari itu semua, orang yang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan emosi dirinya.

Posted in Sosial. 1 Comment »

One Response to “Sabar”

  1. Mbah Dipo Says:

    batas sabar adalah manakala Allah bersiap membinasakan hambanya yg maksiat dgn adzab-Nya. Nabi Nuh adalah nabi yg kesabarannya menyebabkan dimasukkan dalam kategori ulul azmi. namun tetep saja ketika tertib dakwah sudah pada puncaknya dijalankan, beliau berdoa dengan mengharap kebinasaan kaum kapir. dan Allah mengabulkan.
    Namun kita gak pernah tahu, sampai dimana batas itu. Karena kita bukan nabi sebagaimana Nabi Nuh a.s🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: