Monalisa Smile

Film yang pernah kutonton dengan judul Monalisa Smile ini dibintangi oleh Julia Robert. Film dengan setting tahun 50an ini menceritakan kehidupan sekolah di wilayah terpencil (lupa aku dimana tepatnya). Dalam film ini Julia Robert berperan sebagai Katherine Wilson, sebagai seorang guru yang mengajar Seni Modern. Murid disekolah ini adalah wanita semua. Pada film ini Katherine Wilson dihadapkan pada situasi dimana siswi-siswinya telah terpola pola pikirnya. Menurut Katherine Wilson para siswi-siswi ini harus bisa menggapai cita-citanya setinggi mungkin. Jangan sampai budaya yang slama ini berkembang justru akan menghancurkan usahanya selama ini.
Siswi-siswinya menanggapinya pada awalnya sangat kontra sekali dengan pemikiran Katherine Wilson. Menurut siswi-siswinya, peran sebagai seorang istri adalah hal yang sudah ditakdirkan bagi dirinya. Dan hal demikian tidak bisa diganggu gugat lagi. Hal ini sangat mengusik pikiran Katherine Wilson, menurutnya peran itu dapat dilakukan bersama-sama baik sebagai seorang istri dan sebagai seorang praktisi.

Kegoyahan prinsip para siswinya dimulai ketika ada sorang siswi yang menghadapi kenyataan dimana ketika dia menikah malah sering ditinggal pergi oleh suaminya. Dan hal ini sangat mengusik ketenangannya. dari sini kemudian siswi ini bisa berpikir dan merenung kembali dengan apa yang sudah diberikan oleh Katherine Wilson. Akhirnya para siswa ini memahami pemikiran yang disampaikan oleh Katherine Wilson ini dan mengerti bahwa prinsip hidup itu juga penting.
Dalam kehidupan nyata kita sering dihadapkan pada berbagai tipe orang, kita juga dihadapkan pada berbagai budaya yang berkembang saat ini. Bahkan pada akhirnya kita hanya punya pilihan ikut atau tidak ikut. Saking cepatnya informasi yang beredar di masyarakat, informasi yang lewat sedetik saja akan menjadi hal yang sangat basi. hal ini berlaku di masyarakat yang sudah maju pemikiran dan ditunjang dengan teknologi yang memadai.
Sangat kontras apabila kita bandingkan dengan kehidupan di beberapa tempat dimana suku pedalaman masih melangsungkan kehidupannya di tengah-tengah teknologi dengan berbagai informasi yang berkembang sangat cepat ini. Bagi mereka kehidupan berjalan sangat lambat, mereka tidak memikirkan mempunyai istana atau villa di puncak pegunungan yang dingin. Atau berlomba menumpuk kekayaan di bank-bank modern. Bagi mereka hidup tentram denga keluarganya adalah hal yang sangat membahagiakan.
Namun yang lebih kasihan lagi adalah kelompok pinggiran, kelompok masyarakat yang mempunyai pikiran agak maju namun terbatas akan sarana dan prasarana yang memungkinkan mereka untuk berkembang lebih pesat lagi. Kelompok ini adalah masyarakat yang terpinggirkan. Kelompok ini adalah masayarakat miskin kota, yang hidup di pinggir-pinggir kota besar. Kehidupannya menggantungkan hidupnya gemerlap kota yang menurut mereka menjanjikan. namun merek dibatasi oleh pendidikan, harta dan kedudukan. Kehidupan mereka serba terbatas, namun mereka punya keinginan kuat untuk bisa maju. Bahkan mereka rela mengemis dipinggir jalan atau bahkan yang paling ekstrim mereka rela mencopet atau menjambret hanya untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya.
Siapakah yang harus disalahkan ketika ada 3 kelompok dalam masyarakat ini. Pertama, kelompok modern yaitu kelompok yang mempunyai segala-galanya, bagi mereka ketinggalan sedetik informasi adalah kerugian yang tiada taranya. Kelompok kedua, kelompok tradisional merupakan kelompok yang tidak terpengaruh oleh hiruk pikuk kehidupan yang penuh denga jegal menjegal, bagi merekahidup nyaman dilingkungannya adalah kebahagiaan sejati. Kelompok ketiga, masyarakat sub-modern yang meskipun pemikiran mereka maju dalam hal ini mereka tidak berkutat pada keluarga tau kelompok mereka, mereka berusaha untuk bisa ikut dengan hiruk pikuknya kehidupan, namun mereka terbatas aksesnya, mereka terhambat dengan pendidikan yang mereka miliki, mereka terbatasi dengan ekonomi yang menghimpit serta tertinggal gara-gara tidak mempunyai jabatan apapun.
Apakah hal ini sudah menjadi takdir, ataukah ketiga kelompok ini dapat berjalan bersama-sama, tentunya masing-masing mempunya kesadaran untuk saling toleransi satu sama lain?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: