Bangkitnya generasi muda atau apa?

Dalam sebuah berita yang diterbitkan kompas hari rabu 2 Mei 2007 memperlihatkan adanya suatu kekritisan dari generasi muda kita. Puluhan pelajar SD melayangkan protes atas tayangan empat mata Tukul yang menganggap tayangan yang ditampilkan tidak mendidik terutama bagi generasi muda. Berikut ini beritanya :

Pelajar SD Tuding Tukul Tak Bermoral

 

SURABAYA, RABU – Polah Tukul, pelawak yang menjadi pemandu program Empat Mata di Trans 7 itu, boleh saja digemari banyak orang, tapi tidak rupanya bagi puluhan pelajar SD Muhammadiyah 4, Pucang, Surabaya.

Saat merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di sekolahnya, Rabu (2/9), puluhan pelajar tersebut melayangkan protes terhadap aksi tukul yang dinilai tidak bermutu.

“Cipika-cipiki (cium pipi kanan-cium pipi kiri-red) yang dilakukan Tukul itu tidak bermutu, tidak bermoral, karena bukan muhrim,” ujar Fahrizal, pelajar kelas 5 SD Muhammadiyah 4, Pucang, Surabaya dalam orasinya lantang.

Adegan itu, katanya, disengaja untuk menciptakan “virus” baru untuk ditanamkan kepada masyarakat. Bahkan bintang tamunya mengenakan pakaian yang tak layak dipertontonkan. “Kalau seperti itu, nanti kita akan matikan televisinya. Setuju….,” ucapnya, bersemangat, yang dijawab puluhan kawannya dengan teriakan, “Setuju….”

Dalam aksi tersebut, puluhan pelajar itu membentangkan poster yang antara lain bertuliskan “Cipika-Cipiki Yang Bukan Muhrim… Nggak-lah”, “4 Mata atau 1000 Mata Boleh Asal Jaga Akhlak”, “Sensor Adegan Perusak Moral” serta “Media-ku Kami Butuh Acara Mendidik,” dan sebagainya.

Selain itu, para pelajar juga melakukan gerakan teatrikal berupa adegan peradilan class action dengan majelis hakim “hati nurani” dan masyarakat yang menggugat tayangan “Banyak Mata” secara class action.

Secara terpisah, Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 4, Pucang, Surabaya, M Sholihin SAg, menuturkan, Tukul Arwana memang telah menjadi ikon, sampai akhirnya jam tayang yang semula akhir pekan menjadi setiap hari Senin hingga Jumat.

“Alasannya, rating tayangan itu tinggi. Bahkan jam tayang yang semula pukul 22.30 WIB diajukan menjadi 21.30 WIB, tapi mereka tak memperhitungkan bila anak-anak dan remaja pun menonton,” tegasnya.

Ia menambahkan, anak didiknya tidak menolak acara Empat Mata, asalkan Tukul sebagai “wong ndeso” sebaiknya tidak merusak acaranya dengan cipika-cipiki, busana bintang tamu yang “mengumbar” aurat, dan bahasa yang tak senonoh.

Dalam peringatan Hardiknas, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Timur menggelar seminar yang memprotes sinetron remaja di seluruh stasiun televisi yang dinilai merusak moral remaja.

“Banyak sinetron yang berlatarbelakang sekolah dan remaja, tapi mata acaranya justru mengajarkan percintaan, perkelahian, dan gaya hidup hura-hura. Karena itu, kami minta pengelola media bersikap bijak,” ucap Ketua IMM Jatim, Sholikul Huda.

 

Sumber: Antara
Penulis: eh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: