Sakitkah jiwa kita

Sungguh miris memperhatikan perkembangan peradaban di Indonesia, menurut berita di Tempo, akhir-akhir ini peristiwa keji sering datang menyentak. Dua hari lalu seorang lelaki penganggur di Jakarta tega menusuk istrinya sendiri sampai mati. Kejadian sebelumnya tak kalah membuat miris. Guru mengaji di Tangerang membakar istrinya yang sedang menjalani masa nifas setelah melahirkan.

Di kota lain kekerasan serupa pun muncul. Beberapa waktu lalu, di Bandung, seorang ibu tega “menidurkan” tiga anak kandungnya dengan racun. Ibu lain di Yogya nekat membakar diri sampai mati bersama dua anak kandungnya. Semua ini membuat kita bertanya: apa yang terjadi pada masyarakat kita?


Hidup memang makin berat. Itulah kenyataan yang bisa kita saksikan sendiri. Pengamat sosial menuding keadaan ini sebagai biang keladi berbagai tindakan nekat. Bunuh diri, suami menusuk istri, ibu mengakhiri hidup anaknya, sering dikaitkan dengan kondisi mental si pelaku yang tak kuasa menahan tekanan biaya hidup.

Jangan heran jika sepanjang 2006 di Jakarta saja tercatat ada 7.020 kasus kekerasan dalam rumah tangga. Fakta sesungguhnya dipastikan jauh lebih banyak karena korban, biasanya perempuan dan anak, enggan melaporkan kasus yang mereka alami.

Itu sebabnya perbaikan taraf perekonomian bangsa merupakan pekerjaan rumah yang wajib digarap pemerintah secara serius. Tak kalah pentingnya pula, pemerintah harus mulai memperhatikan kualitas kesehatan mental masyarakat.

Pemerintah, juga masyarakat, selama ini cenderung hanya menyoroti kesehatan fisik. Posyandu, puskesmas, sampai rumah sakit umum relatif hanya menangani problem fisik, dari sakit gigi sampai kanker. Tak tersedia jasa layanan kesehatan jiwa pada tingkat paling bawah. Tak ada puskesmas yang dilengkapi dengan tenaga terlatih, perawat atau dokter, untuk menangani pasien yang jiwanya tengah terimpit stres. Bahkan untuk sekadar mendengarkan keluh-kesah pasien.

Stres, depresi, juga sederet gangguan kejiwaan lain yang dialami warga akhirnya mengendap tanpa terdeteksi. Energi negatif mencengkeram. Bisul ini pun meledak dalam berbagai bentuk kekerasan. Padahal, jika ditangani sejak dini, gangguan kejiwaan bisa disembuhkan dan si penderita tetap bisa hidup produktif.

Karena itu, patut dipuji adanya inisiatif lembaga swadaya masyarakat yang ingin memajukan kualitas kesehatan jiwa. Metaforma Institute, misalnya, menyediakan jasa konseling gratis dengan mobil keliling yang mendatangi gang-gang kumuh di Jakarta. Kiat jemput bola semacam ini perlu diperbanyak mengingat masyarakat kita belum sadar akan pentingnya kesehatan jiwa. Tak sedikit di antara kita yang merasa turun gengsinya jika mendatangi psikolog atau psikiater karena khawatir dicap gila.

Sejumlah ahli sebenarnya sudah mengusulkan perlunya undang-undang kesehatan jiwa. Tapi gagasan ini kurang bersambut. Pemerintah, dalam hal ini Departemen Kesehatan, masih menganggap kesehatan mental bukan sesuatu yang perlu diatur secara spesial. Tak hanya ketinggalan zaman, pola pikir ini juga mengabaikan pentingnya kesehatan jiwa bagi masyarakat sekarang.

Yang jadi pertanyaan sebetulnya, seberapa sehatkah pikiran kita ketika melihat semua fenomena itu. Sekedar menghela nafas tanda ikut prihatin ataukah turut ambil bagian guna menyelesaikan permasalahan tersebut? Sekedar membahas ataupun mencela fenomena tersebut memang tidak akan menyelesaikan permasalahan yang ada. Tindakan nyata dari sisi keprihatinan kita menjadikan salah satu senjata untuk mengatasi berbagai persoalan yang menghimpit mental kita selama ini. Minimal adalah pola pikir positif dengan segala keoptimisan hidup dalam menghadapi segala persoalan dan rintangan yang mungkin menghadang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: