Apa korelasi masa depan kehidupan diri dengan perjuangan?

Ada tulisan bagus dari seorang teman, sangat cocok untuk direnungi maknanya serta dihayati hikmah yang terkandung di dalamnya. Kisah ini tentang sebenarnya apa sih hubungan antara kehidupan diri seseorang denga perjuangannya selama ini? Apakah punya kaitan erat, ataukah ada hal lain yang mestinya kita mengerti tentang hal itu? Berikut ini ceritanya dapat kita simak:

Ada seorang ulama yang sedang berkarya dengan membuat buku yang berisi tentang ilmu hidup dan kehidupan. Setelah buku itu selesai ia hanyutkan ke sungai. Sehingga hanya ia seorang yang tahu isi buku itu.

Sahabat disampingnya berkata: Kenapa kamu lakukan itu? Bukankah banyak manfaat yang bisa diperoleh dengan mengajarkan isi buku itu.

Sang ulamapun berkata: Kalau buku itu ditakdirkan memang berguna tentu ada yang mengambilnya dan menggunakannya. Menulis buku itu dalam beberapa tahun ini, bagiku sudah merupakan manfaat hidup yang aku terima.

Hari kehari ulama itu mengalami kesulitan ekonomi sehingga ia sulit memenuhi kebutuhan makannya. Akhirnya ia mengajak temannya pergi kekota yang kauh dimana tak ada yang mengenalnya. Sampai dikota yang jauh ia berkata pada temannya. Jual aku sebagai budak si pasar. Nanti uangnya kamu pakai untuk hidup, dan aku akhirnya bisa hidup sebagai budak pula.

Temannya akhirnya berhasil menjual ulama tersebut pada seorang guru ngaji. Dibawalah ulama itu kerumah guru ngaji. Beberapa hari ia menjalankan perannya sebagai budak di rumah guru ngaji, ia terkejut. Terkejut ketika guru ngaji itu mengajarkan sebuah ilmu dari sebuah buku kepada murid-muridnya. Ia mengenal isi buku itu. “Emang benar, itu buku yang kutulis” ujarnya.

Hari demi hari iapun mengagumi sang guru ngaji karena apa yang diajarkannya tida berbeda dengan pemahamannya atas isi buka yang ia tuliskan. Sampai suatu ketika saat ia menyuguhkan minum kepada sang guru saat ia mengajar. Ia melihat sang guru sedang kebingungan. Sang guru berkata kepada murid-muridnya; “Saya tidak mengerti bagian ini” sambil membacakan sebuah bagian tulisan yang ia tidak mengerti. Murid-muridnya pun hanya bisa diam karena lebih tidak paham dari gurunya. Sang ulama yang menjadi budakpun mohon ijin untuk menjelaskan bagian yang tak dimengerti itu.

“Wah kamu cukup berilmu dari saku ya budak. Bagaimana kamu bisa berilmu seperti ini?” tanya sang guru. Hanya hidayah Allah tuan, jawab sang ulama. Sang gurupun siam sejenak dan kemudian melanjutkan pengajarannya dengan sedikit senyum puas atas penjelasan yang ia dapat.

Namun hari demi hari sang guru banyak mendapat ketidak jelasan dalam buku itu dan ia juga banyak mendapat banyak kejelasan dari sang budak. Sang gurupun mulai curiga pada sang budak. Saat sang budak dan sang guru hanya berdua di ruang ajar. sang guru ber kata. Aku mendapat buku ini dari sungai yang menghanyutkannya. Buku ini terlihat baru selesai ditulis karena banyak tinta di halaman akhir yang belum mengering langsung kena air dan kemudian meluberlah tulisannya. Tak mungkin kamu kamu lebih paham dari aku tentang isi buku ini jika bukan kamu yang menulisnya. Jujurlah padaku, benarkah ini ilmu mu?

Sejenak sang ulama berdiam diri. Ia bingun harus menjawab apa. Tapi ia putuskan menjawab: Sayalah penulisnya. Itu karya saya, yang saya lepas pada aliran sungai. Ia akan berguna bagi orang yang bisa menggunakannya dan akan terbuang bagi orang yang tak bisa menggunakannya.

Apa yang kamu harapkan dari mebuang ilmu itu kesungai? Tanya sang guru.

Tidak ada tuan, selain percaya bahwa Allah melindungi sesuatu yang bernilai bagi umatnya. Jika saya berharga terhadap orang lain tentu Allah menjaga hidup saya. Jika ilmu dalam buku itu berharga untuk manusia tentu Allah menjaganya dari air yang melarutkan. Hidupku dan hidup buku itu tak ada kaitannya selain takdir yang saat ini telah mempertemukan kembali kami berdua. Jawab sang budak.

Sang guru bergumam dengan membelai janggutnya yang mulai memutih: Hemm kamu orang pintar. Walau kamu memilih jadi budak, hidupmu tetap dijaga oleh Allah karena ikhlasmu atas ilmumu. Mulai sekarang kamu bebas, tidak lagi menjadi budakku. aku tak mampu memperbudak orang berilmu dan dimuliakan oleh Allah SWT.

Apa kemuliaan seorang yang merdeka tuan, jika menjadi budak lebih menolong hidupnya?

Berikutnya terserah anda….. he he he.

Nah sulitnya kita adalah: menjaga kepercayaan atas lindungan Allah terhadap hari hari hidup kita. Bahkan kita tidak bisa menghargai diri kita sendiri. Sehingga kita sudah mati sebelum Izrail datang meberi salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: