Suntuk

Barangkali sebagian dari kita, sebagai salah satu dari manusia normal, pernah mengalami yang namanya ‘suntuk’. Yah sebuah perasaan dimana kita merasa sangat luar biasa dalam kondisi tidak seperti biasanya. Kondisi dimana kita merasa sangat tertekan dengan beban yang harus dipikul oleh kita, sedangkan kondisi pikiran dan tubuh kita sangat tidak memungkinkan lagi untuk melanjutkan aktivitas kita tersebut.

Lalu apa yang lantas kita lakukan ketika kondisi kita sedang suntuk tersebut? Apakah melepas semua kepenatan yang kita rasakan selama ini. Ataukah melimpahkan apa yang menjadi tanggungjawab kita kepada orang lain yang belum tentu mengerti apa yang menjadi tugas kita? Ataukah kita kembalikan kepada yang memberi tugas kepada kita, tanpa memberikan hasil akhir yang jelas dan sesuaid engan permintaan?

Terlepas dari apa kesibukan kita masing-masing, pastilah kita pernah mengalami perasaan yang demikian tadi. Nah permasalahannya adalah bagaimana kita menangani hal tersebut, mengatasi hal tersebut, serta bagaimana solusi yang terbaik. Inilah kondisi yang membuat kita benar-benar dibuat pusing tujuh keliling. Kalo kita tidak kuat menghadapinya mungkin emosi kita bisa mudah meledak gara-gara persoalan yang mungkin sepele.

Pernahkah kita menghadapi suntuk ketika berhadapan dengan permasalahan masyarakat dewasa ini? Kita melihat permasalahan yang menghantui masyarakat makin lama makin runyam. Nggak jelas, bahkan terkesan dibuat kabur. Persoalan menaiknya harga BBM ternyata telah memberi imbas pada harga kebutuhan yang lainnya. Akibat yang lebih serius ada kalangan di masyarakat bawah yang semakin tercekik dengan melambungnya harga-harga yang kurang ramah tersebut. Di sisi lain masih ada pengambil kebijakan dengan naiknya harga tersebut merasa tidak terpengaruh dengan naiknya harga-harga. Bahkan koleksi kendaraan atau rumah mewah mereka semakin bertambah. Di tengah terpuruknya masyarakat dengan harga yang kian membumbung tinggi, masih ada penguasa negara yang tidak ambil perduli. Gejala apakah ini?

Suntuk sekali menghadapi permasalahan yang tak kunjung selesai ini. Rasanya harus mulai dari mana? Kalo hanya sekedar perasaan kasihan pada pengemis atao pengamen di pinggir jalan ato di bis kota mungkin sering kita mengalaminya. Tapi apakah dengan perasaan yang demikian itu para pengemis dan pengamen akan berubah kesejahteraan hidupnya. Apakah dengan uang (mungkin tidak seberapa) yang kita berikan kepada mereka akan merubah hidup mereka menjadi orang yang layak (tercukupi kebutuhannya)?

Kalo kita perhatikan dari waktu ke waktu taiap tahun selalu bertambah saja jumlah mereka, seakan-akan mereka tidak akan pernah bisa di atasi. Seakan-akan itu nasib yang harus mereka terima atas konsekuensi hidup yang mereka pilih. Apakah demikian adanya, bahwa nasib mereka seperti itu. Lalu buat apa orang yang ‘kelebihan harta’. Apakah mereka tidak melihat nasib kaum lemah ini. Apakah mereka puas denga hasil kerja keras mereka sehingga tidak memperhatikan orang yang ‘malas’ bekerja menurut kaum ‘pekerja keras’ tersebut?

Apakah hal ini sudah digariskan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: