Manusia perlu makan

Sebenarnya manusia hidup di dunia ini apakah perlu makan ataukah makan itu diperlukan untuk hidup di dunia ini. Ada beberapa kasus yang terjadi di dunia ini bahkan tindakan yang terkesan biadab hanya karena persolan makan untuk memenuhi kebutuhan perut. Kebutuhan perut yang terkadang mungkin tidak seberapa untuk mengobati rasa lapar membuat segelintir orang dengan teganya memakan harta sesamanya, dalam bentuk korupsi misalnya, atau menipu bahkan merampok ataupun mencopet.

Suatu tindakan yang patut disayangkan ditengah kemajuan teknologi dan pengetahuan ummat manusia yang mencapai puncaknya dewasa ini. Peningkatan keilmuan ternyata tidak dibarengi dengan peningkatan akhlak sebagai seorang manusia yang dikaruniai budi, yang ternyata lebih biadab dari binatang. Manusia yang demikian tentunya merupakan manusia yang ada di sekitar kita, bahkan mungkin kita adalah salah satu dari jenis manusia yang menghalalkan cara untuk mendapatkan kebutuhan perut tadi, tentunya dengan kadar yang berbeda-beda.

Anehnya lagi perilaku yang demikian seperti dibiarkan berkembang begitu saja, seolah-olah sudah menjadi budaya yang baik. Ada rasa saling enggan untuk menegur antara satu dengan lainnya. Teguran yang harapannya menjadi benteng pertahanan diri seseorang dari serangan hawa nafsu yang terus membara ternyata tidak mampu menahannya. Hawa nafsu manusia ternyata lebih kuat untuk mendobrak benteng teguran tersebut. Benteng teguran sesame manusia aja tidak mempan apalagi jika hanya mengandalkan benteng hati nurani. Tentunya hati nuraninya udah tertutup debu nafsu serakah manusia.

Kehidupan yang berjalan seiring dengan perkembangan teknologi dan ilmu yang telah dikuasai ummat manusia harusnya bisa membikin manusia bisa lebih arif dalam mensikapi hidup di dunia ini. Teknologi dan ilmu yang dikuasai ummat manusia ternyata membikin manusia semakin sombong dengan angkuhnya menganggap bahwa dirinya sendiri adalah penguasa, bahkan menganggap diri setara dengan Tuhan. Mo jadi Fir’aun generasi millennium?

Apakah kita tidak membaca sejarah? Apakah sejarah yang selama ini kita dengar tentang orang yang lebih dahulu hidup di dunia ini kita anggap hanya sebagai cerita dongeng dari masa lalu kita? Apakah kerusakan yang terjadi akibat ulah manusia dewasa ini tidak cukup dijadikan bukti bahwa kita terlalu bodoh untuk mengelola alam dan seisinya. Apalagi mau menjadi Tuhan, betapa bodohnya kita mengaku-aku sebagai Tuhan.

Perkembangan teknologi hendaknya menjadikan kita bisa bersikap lebih arif menghadapi kekomplekan kehidupan ini. Kearifan yang berlandaskan pada keteguhan diri bahwa masih ada yang lebih berkuasa di atas kita akan menjadikan kita lebih mampu menata dan mengatur kehidupan kita menjadi lebih baik. Kesombongan yang tumbuh seiring dengan semakin pahamnya kita tentang ilmu dan pencapaian teknologi yang lebih tinggi hendaknya kita buang jauh-jauh, karena hal itu tidak ada apa-apanya dengan keberadaan kita di dunia ini.

Ternyata bagaimanapun sombongnya diri kita, tanpa ada makanan yang masuk ke dalam tubuh kita, tubuh kita hanya sebagai kumpulan tulang dan daging yang terkulai lemas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: