Kemandirian masyarakat

Negara Indonesia, pada awal pemerintahan orde baru para pembuat kebijakan pembangunan ekonomi sangat percaya pada proses pembangunan ekonomi yang terfokus pada bagaimana mencapai laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam suatu periode waktu yang singkat. Untuk memulainya, pembangunan dilakukan secara tersentral dan mengebiri potensi budaya tradisional yang sarat dengan etika, budaya dan nilai-nilai kemanusiaan. Akibatnya adalah munculnya konflik sosial, bencana alam dikemudian hari.

Masyarakat sipil termasuk didalamnya masyarakat adat menjadi terpinggirkan. Rezim menganggap bahwa budaya tradisional masyarakat adat tersebut terbelakang dan tidak produktif untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, masyarakat adat sering dijadikan target relokasi paksa dari tanah adatnya ke lokasi pemukiman yang terjangkau, dengan harapan masyarakat adat dapat menjadi manusia modern yang maju dan produktif.

Pemaksaan kebijakan pembangunan oleh pemerintah pusat atas dasar ”persatuan nasional” mengakibatkan lembaga adat, pola hidup, interaksi lingkungan dan sosial serta aturan-aturan yang disepakati mati kutu oleh rezim kapitalisme. Berbagai contoh hancurnya lembaga adat seperti lumbung padi di Jawa, Ammatoa di Sulawesi selatan, kebudayaan Tau Ta’a di Sulawesi Tengah, Lumbung Nagari di Sumatra Barat, budaya suku Gaai di Kalimantan Timur dan sebagainya.

Dunia perbankkan telah mencapai masa puncaknya pada masa orde baru. Begitu rezim orde baru mulai tumbang, bank-bank yang tumbuh bak cendawn di musim hujan itu pun satu persatu kolaps. Dampak yang lebih jauh ternyata yang dirugikan adalah tetap masyarakat kebanyakan yang sebenarnya tidak tahu menahu apa yang terjadi di dunia perbankan.

Persoalan ini pada gilirannya dapat dirasakan akibatnya sekarang. Perekonomian menjadi lumpuh, indikasinya semakin melambungnya barang-barang kebutuhan hidup tiap harinya. Masyarakat menjadi sangat kesulitan bahkan merasa semakin terlilit oleh beban hidup jaman sekarang.

Imbas yang dirasakan masyarakat sekarang ini hendaknya tidak kita biarkan begitu saja. Setiap diri dari kita hendaknya mempunyai inisiatif untuk mengentaskan masyarakat sekitar kita dari belenggu perekonomian yang tidak memihak mereka. Tentunya yang kita usahakan tergantung dari kemampuan kita.

Kalo kita dikaruniai rezeki yang banyak, tentunya kita bisa secara langsung membantu mereka atau memberikan pancingan untuk dapat meratakan distribusi kebutuhan hidup masyarakat, sehingga nantinya mereka tidak akan merasa berat lagi dengan beban hidup yang harus mereka tanggung.

Tapi kalo kita diakruniai rezeki yang terbatas, hal apa yang dapat kita lakukan? tentunya kita dapat bekerjasama dengan teman kita lain yang mempunyai kemampuan terbatas, untuk dapat mewujudkan kesejahteraan bersama. Mungkin kita bisa dirikan koperasi. Bisa juga kelompok usaha kecil-kecilan yang mempunyai tujuan bersama. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mewujudkan kesejahteraan bersama.

Kita nggak usah tergiur dengan slogan-slogan yang terkesan modern saat ini. Meskipun sederhana, namun kelompok usaha atau koperasi yang kita dirikan mempunyai basis yang kuat dan mandiri. Jangan sekali-kali utang ke bank, karena meskipun kita dapat mengangsurnya, suatu saat pasti ada masa dimana kita tidak bisa mengangsurnya.

Mari kita perkuat pondasi masyarakat. Jangan saling berpecah belah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: