… Joni

Tadi malem aku liat film dalam negeri di salah satu stasiun televisi swasta RCTI, tapi aku ga tau judulnya, karena waktu film ini sudah setengah maen dan hampir selesai kayaknya. Sebelumnya liat film berjudul Ghost Ship di TransTV, he .. he..

Film yang di tayangkan RCTI itu bercerita tentang perjuangan seorang anak muda yang berumur 22 tahun yang bekerja sebagai pengantar rol film yang akan diputar di bioskop bernama Joni. Dalam perjalanannya dia menemui banyak rintangan yang memberikan pengalaman berharga bagi dia. Entah mungkin judulnya Petualangan Joni atau Si Joni atau Namaku Joni, tapi pernah denger tentang iklan film ini.

Yang aku liat pada awal melihat film ini pertama kali adalah Joni sedang berada di tempat penyeberangan dan memberikan kesempatan pada pejalan kaki untuk menyeberang, sementara dia dan sepeda motornya menunggu dengan sabar di lintasan sebelum zebra cross. Lalu dalam perjalanan selanjutnya Joni melihat seorang kakek yang mencoba menyeberang jalan, namun ragu-ragu karena jalanan lumayan agak rame.

Dari hati terdalamnya Joni kemudian menghentikan motornya dan memarkir sepeda motornya di pinggir jalan. Lalu ditolongnya kakek itu untuk menyeberang jalan. Setelah sampai di seberang jalan sang kakek mengucapkan terima kasih, lalu Joni dengan tersenyum kembali ke tempat sepeda motornya diparkirkan. Alangkah terkejutnya Joni, ketika sepeda motornya yang diparkir di pinggir jalan diambil orang di depan mata kepalanya sendiri.

Sambil berteriak-teriak Joni mengejar sepeda motor yang di ambil orang itu, namun tetap aja tidak terkejar. Ternyata di depannya ada polisi yang sedang jaga, Joni pun minta tolong ke polisi dan melaporkan bahwa sepeda motornya telah dicuri. Joni malah dipersalahkan oleh polisi karena memarkir kendaraan tanpa sikunci. Dan yang lebih membikin jengkel Joni adalah polisih malah mengajak Joni untuk melapor dulu di pos, sungguh terlalu rumit, keburu pencurinya kabur jauh, begitu pikir Joni.

Joni pun akhirnya naik taksi untuk melanjutkan perjalanannya mengantar rol film. Sopir taksi yang ditumpanginya ternyata sangat cerewet, sang sopir bercerita ngalor ngidul membuat Joni menjadi gusar untuk sampai di Bioskop tempat tujuan Joni. Ternyata istri sopir yang ditumpangi Joni sedang hamil tua, dan ketika pulang belanja instri sopir tadi sudah mulai mules dan kebetulan bertemu di pinggir jalan. Kemudian Joni terpaksa menemani sang sopir dan istrinya ke rumah sakit, karena tangan istri sang sopir mencengkeram kuat baju Joni. Joni pun nggak bisa berbuat apa-apa.

Beberapa saat kemudia, Joni melihat proses persalinan istri sang sopir taksi, belum tuntas Joni melihat peristiwa itu Joni pingsan duluan. Entah ga kuat liat darah atao nggak tahan dengan suasana yang demikian. Setelah sadar Joni bergegas keluar rumah sakit dengan meninggalkan sopir taksi dan istrinya. Joni kemudian lari sekencang-kencangnya untuk dapat mencapai tempat kerjanya secepat mungkin.

Lalu Joni melihat ada dua orang anak muda yang lagi marahan, Joni mencoba bertanya ke arah mana Joni harus melangkah untuk menuju tempat yang di tuju secara cepat. Namun ternyata Joni salah orang, karena orang yang dia tanya sedang syuting film dan Joni terjebak untuk melakukan adegan berikutnya yang ternyata malah membuang waktu Joni. Setelah selesai dari syuting film, perjalanan Joni berlanjut ke gang selanjutnya, di sini dia menemukan ada seorang penjambret yang mencoba menjarah tas seorang mbak-mbak. Di sini Joni mulai ragu, apakah menolong mbak-mbak itu ato nggak. Namun akhirnya Joni pun menolongnya. Dan Joni menantang penjambret tadi untuk duel, dia pun melepaskan tasnya. Ternyata si mbaknya tadi mengambil tas yang dilepaskan oleh Joni tanpa sepengetahuan Joni. Penjambret pun lari juga, Joni merasa senang dan berbalik ke arah mbak tadi yang ternyata juga udah raib bersama tasnya. Joni pun mencoba mengejar tapi tak tahu harus kemana.

Akhirnya Joni ketemu sama seorang anak kecil yang mengaku kenal dengan mbaknya itu. Lalu setelah tawar menawar beberapa saat akhirnya anak kecil itu mengajak Joni ke tempat dimana mbaknya tadi berada, rumanya mbaknya itu kakaknya anak kecil tadi.

Setelah sampai di tempat tujuan, rupanya tas Joni sudah di jual ke seorang seniman aneh. Uang hasil jualan itu dipakai buat audisi ke rekaman, yang ternyata untuk audisi itu kekurangan personelnya yaitu drummer. Akhirnya Joni bersedia jadi drummernya. Setelah selesai aksi band itu (rupanya mbaknya tadi merupakan vokalis grup band amatir), Joni pun mengajak salah satu dari personel band itu untuk mengantar Joni ke tempat seniman aneh tadi.

Akhirnya mbak tadi sama adiknya bersedia mengantar Joni. Rupanya di tengah perjalanan menuju tempat senimat aneh, Joni dan pengantarnya ketemu sama preman. Merekapun akhirnya dikejar-kejar sama preman tersebut. Akhirnya mereka mencoba sembunyi. Setelah beberapa saat sembunyi, Joni dan pengantarnya keluar melanjutkan perjalanan mereka. Tetapi si mbak ternyata kakinya terkilir, perjalanan pun terhambat lagi. Joni akhirnya diberi petunjuk bahwa rumahnya sudah dekat dan tinggal beberapa meter lagi.

Joni pun akhirnya sampai di rumah seniman aneh. Lalu terjadilah dialog yang cukup aneh antara Joni dengan seniman tesebut. Tapi dari dialog antara Joni dengan seniman, ada hal menarik untuk disimak, yaitu mengenai penyataan Joni bahwa ”pekerjaan yang kita bisa menikmati pekerjaan itulah yang bisa membuat kita nyaman” (kalo ga salah). Tapi yang jelas pekerjaan yang dapat dinikmati dan kita merasa enjoy dengan pekerjaan itulah yang membuat kita merasa puas. Namun berbeda posisinya ketika kita bekerja dalam keadaan tertekan, pastinya sangat membuat kita tidak enjoy dan tidak puas.

Cerita dalam film tadi malam tidak berhenti sampai di sini, namun cerita tersebut aku potong sampai di sini aja. Dari rangkaian cerita Joni di film tersebut sebenarnya banyak hal yang dapat kita jadikan pelajaran. Diantaranya adalah rasa kemanusiaan yang pada jaman sekarang ini nampaknya mulai memudar pada bangsa ini. Persoalan sepele aja kadang menjadi sangat rawan bagi beberapa kalangan. bahkan kalo perlu saling bunuh. Sungguh murahnya nyawa ini.

Budaya menolong tanpa pamrih juga sudah sangat kurang di negeri ini, apa-apa sudah mulai mengandalkan ongkos. Mau buang air kecil aja ada harganya, parkir kendaraan juga ada harganya. Seolah-olah uang adalah paling berharga dari semua perilaku hidup di dunia ini. Seolah-olah semuanya dapat diukur demi uang. Padahal ada satu nilai yang terkadang kita abaikan. Yaitu kemanusiaan, persaudaraan, persatuan dan juga kemajuan.

Alam pedesaan yang dulunya kental dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kekeluargaanpun akhirnya harus rela terkikis dengan nilai-nilai keegoisan individu yang merasa kaya. Seolah-olah denga kekayaannya semuanya dapat dibeli. Kesetiaan dapat dibeli denga kekayaan, kepercayaan dapat dibeli dengan kekayaan. Padahal itu semua hanya semu. Kesetiaan dan kepercayaan yang mereka tunjukkan adalah hanya fatamorgana saja. Kalo kekayaan yang dia punya habis, habis sudah kesetiaan dan kepercayaan yang ditunjukkan.

Ketulusan dalam menolong sesama adalah hal mutlak untuk mewujudkan rasa kemanusiaan yang menjadi jiwa terpenting dalam berkehidupan di dalam masyarakat. Ketulusan itu hendaknya menjadi jiwa dan penggerak setiap aktivitas keseharian kita.

Posted in Film. 1 Comment »

One Response to “… Joni”

  1. adi Says:

    judulnyo “Janji Joni”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: