pelayan(an) publik

Pada suatu kesempatan aku pernah menanyakan kepada temen lamaku yang kebetulan ketemu lewat dunia chat tentang dimana dia bekerja. Dia jawab bahwa dia bekerja sebagai pelayan. Ketika aku tanya lebih lanjut dia ternyata bekerja sebagai pelayanan publik selama lebih dari 5 tahun. Aku pikir hebat sekali temenku itu, mampu mengapresiasikan peran dirinya sebagai salah satu pelayan publik, mendedikasikan dirinya dalam melayani kebutuhan masyarakat. Sungguh mulia pekerjaan yang demikian.

Namun ditengah-tengah mulianya pekerjaan sebagai pelayan publik ternyata ada beberapa oknum yang memanfaatkan tanggung jawabnya sebagai pelayan publik dengan teganya melakukan tindakan tidak terpuji. Contohnya dapat dilihat dan didengar padaberita-berita yang marak ditampilkan oleh berbagai media.

Saking parahnya praktik penyimpangan dari tanggung jawab yang harusnya dia pikul telah melahirkan ungkapan yang biasa disebut korupsi. Pelaku korupsi yang disebut koruptor pun merasa bebas melakukan tindakannya tanpa merasa mempunyai rasa bersalah sedikitpun.

Perilaku kurang terpuji tersebut ternyata imbasnya tidak hanya mereka aja yang kena (dengan dijebloskannya ke penjara bagi yang tertangkap) namun masyarakat yang tidak tau apa-apapun harus menanggung harga bahan kebutuhan pokok yang kian melambung tinggi dan juga beban hutang Negara yang berakibat pada semakin naiknya pajak yang harus mereka bayarkan.

Apakah sudah hilang nurani para pelayan publik yang harusnya bisa mengayomi dan member ketentraman pada masyarakat. Biaya pembuatan KTP yang terkesan mahal pun tak luput dari keluhan masyarakat yang dengan rasa terpaksa merelakannya demi mendapatkan sebuah kartu yang menunjukkan dia bertempat tinggal (meski sudah bertahun-tahun dia tinggal di situ). Belum lagi lama pengurusannya juga memakan waktu yang tidak sebentar pula.

Terlepas dari berbagai kelemahan yang terjadi di dunia pelayanan publik, kita sebagai rakyat hendaknya mampu menempatkan diri. Jangan mudah termakan isyu yang pada akhirnya hanya akan merugikan kita sendiri (contoh kasus kerusuhan Mei 1998 hendaknya menjadi pelajaran bersama). Lalu sebagai seorang pelayan publik harusnya menyadari posisinya tersebut, serta mampu menempatkan diri sebagai apa.

Janganlah seorang pelayan publik justru menjadi musuh masyarakat. Idiom pelayan publik (pemerintah) hendaknya bener-bener menjadi pelayan bagi masyarakatnya. Sudah terlalu lama rakyat bangsa ini menderita kesusahan dan kemelaratan gara-gara salah dalam mengelola lembaga pelayan publik. Rupanya kesalahan itu telah mengakar dan mendarah daging dalam jiwa organisasi pelayanan publik. Hal ini harus ditangani dengan segera, mulai dari lini tertinggi sampai kepada perangkat desa yang berhadapan langsung dengan masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: