Kerja Bakti

Klo dalam dunia pedesaan istilah kerja bakti mungkin bukan merupakan hal yang asing. bahkan istilah tersebut telah menjadi keseharian yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pedesaan. Semangat yang tertanam dibalik istilah tersebut mengingatkan diriku pada masa lalu dimana para tokoh kemerdekaan menggunakan istilah ini untuk membangun semangat para penduduk desa untuk membantu para pejuang yang tengah mengadu nyawa di medan laga. Dengan kerja bakti saling bahu membahu para penduduk menyediakan kebutuhan logistik para pejuang kemerdekaan, selain itu para penduduk ada juga yang merelakan nyawanya untuk membantu berjuang melawan musuh.

Pada jaman orde baru istilah kerja bakti juga sering dipakai, terutama TNI yang dulu istilahnya ABRI dengan programnya ABRI Masuk Desa. Para ABRI ini kerja bakti masuk desa untuk membantu masyarakat pedesaan yang mungkin masih kekurangan tenaga untuk melakukan pekerjaan semisal memperbaiki saluran air, membuat sumur umum atau WC umum, bahakan membangun balai petemuan.

Kalo kita perhatikan suasana kerja bakti penuh dengan kekeluargaan. Tidak ada rasa saling iri atau bahkan merasa tertekan dengan beban kerja yang dilakukan, karena semuanya dilandasi dengan rasa senang dan penuh dengan suasana kekeluargaan. Lalu apa yang menjadi masalah dengan semuanya itu? Adakah hikmah lain dibalik istilah tersebut?

Ternyata ada sisi lain dari istilah kerja bakti. Penyalahgunaan pengertian dari istilah kerja bakti telah membuat sebagian atau segelintir orang dengan tega melakukan perbudakan antar sesama manusia. Dengan tidak memperhatikan jerih payah yang dilakukan seseorang dengan tanpa ada penghargaan yang berarti bagi manusia tersebut. Sungguh kondisi yang sangat tidak masuk akal dan cenderung tidak manusiawi.

Dalam lingkungan pekerjaan tentunya segala sesuatu boleh dibilang harus profesional. Seseorang yang melakukan sesuatu kewajiban tentunya mempunyai hak yang harusnya dipenuhi juga. Ternyata sampai sekarang pengertian hak dan kewajiban yang harusnya bisa dimengerti oleh para pengambil kebijakan dan pemegang kekuasaan masih suka disalahgunakan. Kebanyakan para pemegang kekuasaan masih suka memeras dan menindas anak buahnya demi kepentingan pribadinya semata.

Tanpa mempunyai rasa belas kasihan (entah punya rasa belas kasihan atau engga), para pemegang kekuasaan dalam institusi pekerjaan tersebut terkadang malah memaksakan sesuatu pekerjaan pada seseorang dengan imbalan yang tidak sesuai dengan beban pekerjaan yang dia tangani. Samapai kapan negeri ini akan dirundung kondisi yang demikian mengerikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: