Kepedulian Kita

Masih dalam rangka mengenang almarhum mantan pemimpin yang pernah berpengaruh di Indonesia maupun di luar Indonesia. Masih dalam rangka menghilangkan luka lama yang nggak sembuh-sembuh lantaran perbuatan penguasa terhadap sistem yang diberlakukan terhadap perikehidupan di bumi Indonesia. Saat inipun luka itu belum bisa mongering, ditengah-tengah krisis ekonomi yang belum padam, ternyata kita dihadapkan pada harga BBM yang makin melonjak, harga minyak tanah bisa mencapai angka 5 ribuan. Bahkan untuk bidang makanan pun harga kedelai melonjak hebat. Hebatnya lagi, menurut pengakuan petani kedelai harga yang dia jual ke tengkulak dengan harga di pasaran sangat jauh sekali perbedaannya. Petani merasa sangat dirugikan. Para pengrajin tempe juga merasa dirugukan. Lalu ibu-ibu rumah tangga yang hamper setiap harinya mengkonsumsi tempe juga merasa dirugikan. Lalu pedagang gorengan yang biasa mangkal di pinggir jalan juga merasa dirugikan. Lalu siapa yang mendapat untung?

Memang tidak mudah untuk menelusur siapa sebenarnya yang mendapat untung dari adanya sistem tidak sehat ini. Dengan adanya harga-harga yang membumbung tinggi maka otomatis inflasi akan semakin tinggi pula. Sebenarnya dengan adanya harga yang semakin mahal semuanya dirugikan. Karena dengan harga yang tinggi maka kemampuan untuk membeli sebenarnya juga kurang. Tak masalah apabila penghasilan tiap bulan orang tersebut lebih dari mencukupi. Namun apakah pernah terpikir oleh kita dengan adanya sekelompok bahkan banyak kelompok manusia yang merasa terlilit beban hidup untuk bisa makan dalam kesehariannya, jika ditambah dengan harga barang yang kian menhimpit hidupnya. Mau kemana lagi mereka bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Ditambah lagi keluarga yang menjadi tanggungannya.

Apakah tidak ada keadilan dalam negeri ini? Kenapa masalah kemiskinan yang dari dulu sudah diketahui dan ada kehendak untuk merubahnya, tetep saja menjadi masalah. Kenapa masalah kemiskinan yang lambat laun bisa menjadi masalah kejahatan dan kekerasan tak pernah terselesaikan. Apakah yang salah dengan ini semua. Agaknya kita harus lebih melihat diri kita sendiri. Apakah diri kita seandainya ada kemampuan, sudah mulai mengangkat harga diri tetangga kita yang sedang kesusahan. Andaikan kita mampu, apakah anak-anak tetangga kita yang tak mampu sekolah sudah kita jadikan sebagai anak asuh? Andaikan kita lebih mampu lagi, apakah kita sudah melakukan penampungan anak jalanan yang kita didik untuk membawa mereka menatap masa depan yang lebih cerah?

Apabila memang kurang mampu, apakah kita sudah berusaha lebih keras untuk mengentaskan diri kita dari jurang kemiskinan. Sudah sekuat apa usaha kita untuk memperoleh penghasilan yang layak. APakah kita sudah mampu untuk mengendalikan diri, menjaga perilaku kita untuk tidak melakukan tindak kejahatan, meskipun hanya kecil saja. Kalo kita emang tidak punya apa-apa, sudahkah ada usaha dari kita untuk berusaha jauh lebih keras dalam upaya untuk berkarya dengan karya apapun yang kita bisa yang akan kita banggakan nantinya.

Permasalahan ekonomi masyarakat kebanyakan hanya akan selesai apabila kita turut andil di dalamnya. Permasalahan yang muncul selama ini hanya akan selesai apabila kita beusaha keras, bersama-sama untuk menyelesaikannya. Tidak ada lagi kata menyalahkan orang lain. Yang ada hanyalah kesadaran bahwa kita hidup di dunia ini adalah semangat kebersamaan dan tolong menolong.

Kita kaya di dunia bukan untuk diri atau 7 generasi turunan kita saja. Akan tetapi masih banyak tetangga-tetangga kita yang masih menantikan uluran tangan. Kita masih lihat anak-anak yang berkeliaran dipinggir jalan, kita juga maish melihat seorang ibu yang membawa bayinya ditengah panasnya udara jalanan, mereka hanya untuk menerima sumbangan sesuap nasi pengganjal perut. Kita harus selamatkan mereka. Kita harus mempersiapkan generasi penerus, yang akan memakmurkan negeri ini dimasa mendatang. Kita tidak ingin generasi mendatang masih berada dalam jajahan kemiskinan dan kemelaratan.

Kemakmuran adalah dambaan setiap orang. Ketentraman dan kebahagiaan adalah impian setiap insane di dunia ini. Namum getaran hati kitalah yang hanya menggerakkan kita untuk peduli terhadap sesame. Nurani kita yang menuntun kita menuju gerbang simpati terhadap sesama. Mari dari sekarang kita memperdulikan orang-orang yang kurang beruntung itu. Mari kita belajar pada masa lalu. Janganlah kita terlalu menyalahkan penguasa, akan tetapi kita sendiri nol besar dalam berbuat. Jangan suka mencaci, karena setiap cacian yang kita lontarkan biasanya akan berbalik kepada kita sendiri. Semoga segala amal nyata yang kita lakukan dengan ikhlas mendapatkan ridhoNya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: