Tour de Istana

180px-istana_negaraHari Sabtu tanggal 27 Desember 2008 kemarin rencana kami sekeluarga rencana mau berkunjung ke Istana Negara, yang berlokasi di sebelah utara Monas. Kami nyampai lokasi sekitar jam 12an, ketika sampai di pintu gerbang kami di cegat penjaga pintu gerbang katanya istana sudah tutup untuk umum. Katanya mau ada sidang kabinet atau rapat menteri, kurang tau pastinya. Tentunya kami sekeluarga waktu itu sangat kecewa, karena disamping sudah jauh-jauh dari Jakarta Selatan dimana kami menggunakan busway utuk sampai ke sana, ketika udah di sana ternyata udah tertutup.

Hari berikutnya Ahad, 28 Desember 2008 kami datang lagi ke Istana. Tapi kali ini pake motor, dan hanya berdua dengan ibu saya. Kebetulan liburan trus datang ke Jakarta. Sampai di lokasi ternyata saya ga boleh masuk, alasannya karena pakai celana jeans. Ya udah akhirnya ibu saya aja yang masuk, saya nunggu di luar aja. Padahal dulu sebelumnya saya hanya pakai kaos dan ‘sebetulnya’ ga boleh masuk, tapi saya nekad bawa jaket, lalu jaket pun ternyata suruh dilepas.

Yang menarik dari tour de istana ini adalah bahwa peristiwa ini sangat langka bisa diperoleh di negeri kita. Baru-baru ini aja istana boleh untuk umum (meski hanya hari2 tertentu saja, sabtu dan ahad) sejauh yang saya tahu. Entah ada maksdu apa di balik pembukaan istana untuk umum ini, apakah memang bener2 ingin mengenalkan masyarakat luas tentang istana presiden mereka atau ada maksud ‘terselubung’ dibaliknya. Tentunya kita hanya positif thinking aja.

Menurut tante wiki, Istana Negara dan Istana Merdeka yang berada di satu kompleks di Jalan Merdeka, Jakarta, merupakan dua buah bangunan utama yang luasnya 6,8 hektar (1 hektar = 1 hektometer persegi = 10000 meter persegi) dan terletak di antara Jalan Medan Merdeka Utara dan Jalan Veteran, serta dikelilingi oleh sejumlah bangunan yang sering digunakan sebagai tempat kegiatan kenegaraan.

Dua bangunan utama adalah Istana Merdeka yang menghadap ke Taman Monumen Nasional (Monas)(Jalan Medan Merdeka Utara) dan Istana Negara yang menghadap ke Sungai Ciliwung (Jalan Veteran). Sejajar dengan Istana Negara ada pula Bina Graha. Sedangkan di sayap barat antara Istana Negara dan Istana Merdeka, ada Wisma Negara.

Pada awalnya di kompleks Istana di Jakarta ini hanya terdapat satu bangunan, yaitu Istana Negara. Gedung yang mulai dibangun 1796 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Pieter Gerardus van Overstraten dan selesai 1804 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Johannes Siberg ini semula merupakan rumah peristirahatan luar kota milik pengusaha Belanda, J A Van Braam. Kala itu kawasan yang belakangan dikenal dengan nama Harmoni memang merupakan lokasi paling bergengsi di Batavia Baru.

Pada tahun 1820 rumah peristirahatan van Braam ini disewa dan kemudian dibeli (1821) oleh pemerintah kolonial untuk digunakan sebagai pusat kegiatan pemerintahan serta tempat tinggal para gubernur jenderal bila berurusan di Batavia (Jakarta). Para gubernur jenderal waktu itu kebanyakan memang memilih tinggal di Istana Bogor yang lebih sejuk. Tetapi kadang-kadang mereka harus turun ke Batavia, khususnya untuk menghadiri pertemuan Dewan Hindia, setiap Rabu.

Selama masa pemerintahan Hindia Belanda, beberapa peristiwa penting terjadi di gedung yang dikenal sebagai Istana Rijswijk (namun resminya disebut Hotel van den Gouverneur-Generaal, untuk menghindari kata Istana) ini. Di antaranya menjadi saksi ketika sistem tanam paksa atau cultuur stelsel ditetapkan Gubernur Jenderal Graaf van den Bosch. Lalu penandatanganan Persetujuan Linggarjati pada 25 Maret 1947, yang pihak Indonesia diwakili oleh Sutan Syahrir dan pihak Belanda diwakili oleh H.J. van Mook.

Pada mulanya bangunan seluas 3.375 m2 berarsitektur gaya Yunani Kuno ini bertingkat dua. Tapi pada 1848 bagian atasnya dibongkar; dan bagian depan lantai bawah dibuat lebih besar untuk memberi kesan lebih resmi. Bentuk bangunan hasil perubahan 1848 inilah yang bertahan sampai sekarang tanpa ada perubahan yang berarti.

Sebagai pusat kegiatan pemerintahan negara, saat ini Istana Negara menjadi tempat penyelenggaraan acara-acara yang bersifat kenegaraan, antara lain pelantikan pejabat-pejabat tinggi negara, pembukaan musyawarah dan rapat kerja nasional, kongres bersifat nasional dan internasional, dan jamuan kenegaraan.

Karena Istana Rijswijk mulai sesak, pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal J.W. van Lansberge tahun 1873 dibangunlah istana baru pada kaveling yang sama, yang waktu itu dikenal dengan nama Istana Gambir. Istana yang diarsiteki Drossares pada awal masa pemerintahan RI sempat menjadi saksi sejarah penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) oleh Pemerintah Belanda pada 27 Desember 1949. Waktu itu RI diwakili oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sedangkan kerajaan Belanda diwakili A.H.J Lovinnk, wakil tinggi mahkota Belanda di Indonesia.

Dalam upacara yang mengharukan itu bendera Belanda diturunkan dan Bendera Indonesia dinaikkan ke langit biru. Ratusan ribu orang memenuhi tanah lapangan dan tangga-tangga gedung ini diam mematung dan meneteskan air mata ketika bendera Merah Putih dinaikkan. Tetapi, ketika Sang Merah Putih menjulang ke atas dan berkibar, meledaklah kegembiraan mereka dan terdengar teriakan: Merdeka! Merdeka! Sejak saat itu Istana Gambir dinamakan Istana Merdeka.

Sehari setelah pengakuan kedaulatan oleh kerajaan Belanda, pada 28 Desember 1949 Presiden Soekarno beserta keluarganya tiba dari Yogyakarta dan untuk pertama kalinya mendiami Istana Merdeka. Peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus di Istana Merdeka pertama kali diadakan pada 1950.

Sejak masa pemerintahan Belanda dan Jepang sampai masa pemerintahan Republik Indonesia, sudah lebih dari 20 kepala pemerintahan dan kepala negara yang menggunakan Istana Merdeka sebagai kediaman resmi dan pusat kegiatan pemerintahan negara.

Sebagai pusat pemerintahan negara, kini Istana Merdeka digunakan untuk penyelenggaraan acara-acara kenegaraan, antara lain Peringatan Detik-detik Proklamasi, upacara penyambutan tamu negara, penyerahan surat-surat kepercayaan duta besar negara sahabat, dan pelantikan perwira muda (TNI dan Polri).

Bangunan seluas 2.400 m2 itu terbagi dalam beberapa ruang. Yakni serambi depan, ruang kredensial, ruang tamu/ruang jamuan, ruang resepsi, ruang bendera pusaka dan teks proklamasi. Kemudian ruang kerja, ruang tidur, ruang keluarga/istirahat, dan pantry (dapur).

Sepeninggal Presiden Soekarno, tidak ada lagi presiden yang tinggal di sini, kecuali Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Presiden Soeharto yang menggantikan Soekarno memilih tinggal di Jalan Cendana. Tapi Soeharto tetap berkantor di gedung ini dengan men-set up sebuah ruang kerja bernuansa penuh ukir-ukiran khas Jepara, sehingga disebut sebagai Ruang Jepara serta lebih banyak berkantor di Bina Graha.

Di sela-sela acara berkunjung ini sambil menunggu giliran juga disediakan toko souvenir yang menjual aneka souvenir khas istana negara. Toko Souvenir Istana Presiden terletak di dalam lingkungan kompleks Istana Kepresidenan yang asri. Tepatnya di Gedung Wisma Negara lantai dasar. Tidak susah membedakan Toko Souvenir ini dengan kantor-kantor yang lain di sekitarnya. Karena Toko Souvenir tersebut lebih banyak didominasi oleh dinding kaca sehingga memudahkan orang-orang untuk melihat ke dalam. Dua pasang patung manusia berpakaian daerah berdiri di kanan dan kiri pintu masuk toko, seolah-olah menyambut para tamu yang berkunjung.

Toko Souvenir ini dikelola oleh Dharma Wanita Persatuan Rumah Tangga Kepresidenan di bawah bimbingan penasehat Anita Ahmad Rusdi, diketuai oleh Ima Garibaldi Sujatmiko dan beranggotakan istri-istri karyawan Rumah Tangga Presiden yang berjumlah kurang lebih 23 orang. Masuk lebih jauh ke dalam, ibu-ibu Dharma Wanita berseragam warna pink muda akan menyambut dengan ramah. Secara bergiliran, tiga sampai empat orang anggota Dharma Wanita menjaga Toko Souvernir yang buka dari pukul delapan pagi hingga setengah empat sore.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: