Marah

Kemarahan seseorang bisa menjadi akibat buruk baik bagi dirinya sendiri ataupun bagi orang lain yang ada disekitarnya. Orang yang lagi marah biasanya hatinya tidak terkontrol, tentunya apa yang diucapkan ataupun yang dilakukan tentunya akan jauh dari kebenaran, meskipun dia marah karena membela sesuatu yang benar. Allah lebih menyukai orang yang sabar daripada orang yang mengumbar amarah.jangan_marah

Ada statement yang menyatakan bahwa orang yang tanpa emosi adalah orang yang kurang bisa care dengan lingkungan, maka marah itu perlu katanya sebagai pelepas emosi yang memuncak. Ups, sebentar dulu, hendaknya dibedakan antara marah dan emosi. Marah itu lebih mencerminkan ledakan jiwa seseorang yang terlontar begitu saja, sifatnya sesaat biasanya, terkadang disertai tindakan anggota tubuh berupa gerakan tangan misalnya tamparan, meninju atau menggablok; juga dengan kaki misalnya tendanga; tentunya semua gerakan anggota tubuh itu adalah gerakan tak terarah dan cenderung membabi buta. Sedangkan emosi lebih cenderung mengedepankan pikiran negatif dari suatu peristiwa yang dia hadapi. Pada kondisi emosi seseorang memuncak, hatinya tertutup oleh kenyataan akan makna dibalik peristiwa yang menimpa dirinya. Emosi lebih mengarah kedewasaan seseorang ketika dia mampu mengendalikannya.

Kemarahan seseorang tentunya harus diredakan dengan pengendalian diri, dengan bersikap logowo menerima  perbedaan dari setiap orang yang memang selalu ada tentunya diharapkan mampu mengendalikan amarah dalam dirinya. Trus jangan suka menimbun amarah, lebih baik diikhlaskan aja, masalahnya kita hidup bukan untuk marah-marah. Masih banyak hal positif lain yang bisa kita lakukan ketimbang marah-marah.

Emosi menunjukkan tingkat kedewasaan seseorang, seseorang dengan tingkat pengendalian emosi yang tinggi menunjukkan seberapa kedewasaan seseorang itu terukur. Emosi juga mencerminkan siapa sebenarnya diri kita, dengan melihat kita dengan melihat orang lain yang berakibat munculnya emosi tentunya menjadikan diri kita siapa kita, seberapa kualitas diri kita.

Munculnya reaksi-reaksi sesaat, saling kecam dan bahkan cacian yang muncul bukan mencerminkan siapa-siapa, namun hal itu mencerminkan siapa sebenarnya yang melakukan itu. Diri kita hendaknya menjadi diri yang mengetahui likngkungan kita dengan bersikap yang bijak dan tentunya dapat dipertanggungjawabkan. Kita tidak perlu menjadi provokator atau pengadudomba atau calo yang hanya bisa koar-koar omong kosong, tapi diri kita bukan siapa-siapa.

Mari kita perbaiki diri kita sendiri. Mari kita bantu kaum yang benar-benar tertindas dan teraniaya. Jangan takut dan ragu dengan rintangan yang akan menghadang. Kenyataan dan fakta tentang Israel vs Palestina harus dibeberkan.

Posted in Sosial. Tags: . 2 Comments »

2 Responses to “Marah”

  1. gustri handoyo Says:

    Mau tanya nih mas, gimana kalo kita marah-marahnya sama orang tua ???
    Posisi kita sudah berumahtangga dan dikaruniai satu orang putri yang alhamdullilah cantik…amin, cuman masih numpang di rumah ortu, sering kali denger kata-kata nggak enak, pokoknya tau lah gimana rasanya…
    Awalnya paling didengerin, trus kita coba berubah, mengevaluasi diri tapi kok ya masih kurang terima…akhirnya ya itu tadi…” meledak “…cuman saja waktu ” meledak ” saya masih bisa mengontrol kata-kata, saya ungkapkan keinginan saya dan keluarga kecil saya, saya ungkapkan kalo saya dan keluarga kecil saya juga pengen belajar mandiri, tapi jangan dengan cara mengeluarkan kata-kata yang tidak enak…tapi jangan hanya ngomong di belakang…”, durhakakah saya pada orang tua ???…apakah orang tua itu selalu benar ???…wahai orang tua…jangan samakan keadaan sekarang dengan dulu, karena jaman sekarang serba susah…??? biarkan kami belajar dari kalian, tapi pandu kami dengan kata-kata dan perbuatan yang tidak membuat kami jadi kecil hati…, masa kalian sudah lewat, kini berganti dengan masa kami, yang harus berjuang lebih keras lagi untuk bisa bertahan hidup dibanding dengan masa kalian dulu… ( please beri masukan biar bisa jadi wacana untuk saya, kirim ke e-mail saja, thank’s before )

  2. danang Says:

    Mas Gustri yang semoga dimudahkan segala urusannya,

    Rasa marah adalah normal dipunyai oleh makhluk normal yang bernama manusia. Setiap manusia yang waras pasti akan mempunyai rasa marah jika menghadapi sesuatu yang tidak sesuai atau sesuatu yang menjengkelkan bagi dirinya sendiri.
    Untuk menghadapi orang tua yang nota bene udah kedaluarsa, sudah tidak sesuai dengan jamannya, tidak serta merta kita ledakkan begitu saja rasa marah kita. Bagaimanapun juga orang tua adalah sosok yang telah melahirkan dan membesarkan kita, harus kita hormati. Bahkan dalam Al Qur’an kita dilarang untuk mengucapkan upf’ pada orang tua. So, terhadap orang tua kita wajib hormat, terhadap sesuatu yang mungkin akan menyebabkan kita marah, mending diredam dulu, entah dengan pergi keluar ruang atau menyibukkan diri dengan sesuatu dengan tidak menyinggung perasaan ortu tentunya. Nah suatu saat ketika semuanya longgar, dan kita tidak digelayuti rasa marah lagi, baru deh kita coba berdialog dengan orang tua kita tentang masalah yang membuat kita marah. Katakan dengan lemah lembut tentang sesuatu yang tidak kita cocok, jelaskan dengan sabara tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Bisa juga kita gali info dari orang tua tentang persepsi otu terhadap masalah tersebut, baru kita jelaskan dengan penuh ketelatenan tentang persepsi kita.

    Intinya jangan sampai menyebabkan ortu kita jadi sakit ati. Orang tua bisa salah namun jangan sampai kita menyakiti hati orang yang pernah melahirkan, serta membesarkan kita hingga jadi orang yang seperti sekarang ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: