Pemiskinan

Sebelumnya kita lebih familiar dengan kata kemiskinan. Kemarin ada istilah yang belakangan ini marak dibicarakan orang, yaitu pemiskinan. Nampaknya istilah ini lebih mudah dipahami sebagai suatu gerakan yang konotasinya negatif. Kalau kita cermati kita menghadapi pemiskinan daripada kemiskinan. Kemiskinan adalah suatu keadaan yang sifatnya itu lebih statis dibandingkan dengan istilah pemiskinan. Entah benar atau tidak kondisi yang ada dalam masyarakat sekitar kita merupakan salah satu efek dari adanya sekelompok orang yang mungkin dikatakan tidak bertanggung jawab dalam rangka pemiskinan ini.

Ada banyak contoh yang telah dicontohkan oleh temen-temen, diantaranya adalah kasus pengemis dengan modus operandi penipuan, yang mengatakan dirinya pengin pulang kampung tapi tidak ada ongkos. Pelaku ini dengan entengnya telah menipu sekian banyak orang dengan sandiwara yang telah diciptakannya. Dengan dalih bahwa dia nggak ada ongkos untuk pulang. Dan dengan pengalaman yang demikian, dari orang yang pernah ‘merasa’ ketipu oleh pelaku yang demikian, dia jadi kapok. Anehnya pengalamannya ini dia ceritakan ke orang lain supaya tidak ketipu dengan perilaku yang demikian. Nah akhirnya ada gerakan untuk ‘hati-hati’ terhadap orang-orang yang berkedok pulang kampung nggak punya ongkos. Akhirnya yang sebenarnya menjadi kekhawatiran lembaga kemanusiaan selama ini terwujud, yakni ketidakpedulian sosial muncul. Yah, akhirnya ada rasa yang mati dalam hati ketika melihat sekelompok pengemis yang dengan susah payah mencari sesuap nasi.

Pertanyaan selanjutnya, sebenarnya apakah pengemis-pengemis itu bener-bener tidak kuasa untuk berusaha. Mencari usaha lain yang halal, misalnya menjadi tukang cuci atau sebagai loper koran, apakah tidak bisa. Atau itu sudah menjadi penyakit nasional, kemalasan nasional, mau enak tapi tidak mau berusaha.

Ada satu fakta lagi yang tidak bisa kita pungkiri mungkin salah satu akibat dari adanya pemiskinan itu yaitu fenomena korupsi yang belakangan ini terkuak. Korupsi dari pejabat yang harusnya bisa menjadi teladan, bisa di contoh malah menjadi seorang yang layak sebagai bahan hujatan. Aneh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: